Suara Warga Tripa

Okupansi perusahaan perkebunan kelapa sawit menjadi tantangan utama aksi konservasi Tripa-Babahtor. Gugatan Walhi terhadap Kallista Alam, pada 2011 hingga adanya putusan inkrah oleh pengadilan makin menimbulkan optimisme di kalangan aktivis dan masyarakat yang peduli Tripa.

Konflik sosial yang sempat menghantui dinamika persoalan Tripa-Babahrot kini mulai berkurang dan nyaris hilang. Namun upaya konservasi yang benar-benar mendapatkan status hukum tetap masih harus terus diperjuangkan.

Karena itu, untuk mendukung aksi konservasi Tripa yang berkalnjutan dibutuhkan tingkat partisipatif aktif masyarakat –dimana upaya ini bisa dilakukan dengan menyediakan ruang, akses interaksi, dan keterlibatan warga untuk mengalirkan informasi di antara mereka.

Tantangan inilah yang sedang dilakukan Aceh Wetland Foundation melalui dukungan Tropical Forest Conservation Action-Sumatera (TFCA-Sumatera).

Kegiatan yang dikemas dalam model citizen journalism ini kami lakukan untuk mendukung aksi konservasi berkelanjutan. Karena kami optimis, upaya ini akan dapat menjadikan masyarakat sebagai kendaraan yang dapat membawa pesan pelestarian lingkungan bagi publik.

Model jurnalisme warga yang kami lakukan merupakan alternatif yang tepat untuk mengajak partisipasi aktif warga, pegiat, praktisi lingkungan dan jurnalis profesional untuk menyuarakan persoalan lingkungan yang seringkali terpinggirkan.

Karena masih banyak persoalan, catatan, keluhan, dan dinamika di Tripa yang mestinya layak diketahui publik dan oleh para pengambil kebijakan. Maka melalui Buku Kumpulan Karya Jurnalisme Warga ini, kami ingin mengajak Anda melihat dengan jernih persoalan yang ada di Rawa Tripa.

Meskipun belum semuanya bisa memenuhi semua persoalan yang ada, namun sejumlah laporan dari jurnalis warga kami di lapangan dilaporkan berdasarkan fakta dan data.

Karena model jurnalisme warga yang kami praktekkan adalah dimana warga hanya bisa melaporkan fakta dan data saja, dan haram melaporkan opini, klaim, asumsi, bahkan analisis sekalipun.

Sehingga, kami bisa meminimalisir bias yang akan timbul dari laporan jurnalis warga di seputaran Rawa Tripa-Babahrot.

Namun sekali lagi, upaya yang kami lakukan ini masih membutuhkan dukungan dari para pihak khususnya stakeholder yang bekerja bagi konservasi di ekosistem Tripa-Babahrot.

Yusmadi Yusuf
Direktur Eksekutif AWF

Bagikan

Informasi Terbaru
Seiring dengan pertumbuhan perkotaan dan peningkatan permintaan lahan, kecenderungannya adalah merambah lahan basah dan lahan basah tersebut menghilang tiga kali lebih cepat dibandingkan hutan.
Poster
Pustaka
Follow Us