SIARAN PERS
Dapat Segera Diberitakan
Senin, 28 September 2026
SUBULUSSALAM — Aceh Wetland Forum (AWF) memperkuat kapasitas pemantauan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil melalui pelatihan teknis dan praktik lapangan penggunaan aplikasi EarthRanger.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 26–27 September 2026, di Kota Subulussalam ini melibatkan masyarakat/ranger, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, dan tim AWF.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program “Pemantauan Hutan dan Pergerakan Laju Deforestasi di Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Subulussalam Menggunakan Aplikasi EarthRanger”, yang dilaksanakan AWF dengan dukungan pendanaan TFCA Sumatera.

Sebanyak 17 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri atas 10 masyarakat/ranger dari sekitar kawasan SM Rawa Singkil di Kecamatan Runding dan Longkib, Kota Subulussalam, dua staf teknis BKSDA Aceh, serta lima staf/tim proyek AWF.
Tekanan terhadap Kawasan Rawa Singkil
SM Rawa Singkil merupakan salah satu kawasan hutan gambut penting di Aceh dan berada dalam bentang alam Ekosistem Leuser.
Kawasan ini menjadi habitat bagi sejumlah spesies kunci dan satwa terancam punah, termasuk Orangutan Sumatera, Harimau Sumatra, dan Beruang Madu.
Namun, kawasan tersebut menghadapi berbagai tekanan, antara lain perambahan, pembukaan lahan, penebangan liar, kebakaran hutan dan lahan, serta perburuan satwa.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, kebutuhan terhadap pemantauan kawasan yang didukung sumber daya manusia, keterlibatan masyarakat, serta data spasial yang akurat dan terkini menjadi semakin penting.
Melalui program ini, AWF mendorong penguatan sistem pemantauan hutan dengan melibatkan masyarakat lokal, pengelola kawasan, dan BKSDA Aceh.
Dari Pelatihan hingga Simulasi Patroli
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai konsep, fitur, dan manfaat EarthRanger untuk pemantauan kawasan.
Peserta juga melakukan praktik instalasi dan pengaturan awal aplikasi pada perangkat masing-masing.
Selain itu, mereka dilatih melakukan validasi GPS serta mencatat titik koordinat temuan lapangan.
Materi tersebut kemudian diterapkan melalui praktik lapangan berupa simulasi patroli menggunakan aplikasi EarthRanger pada hari kedua.

Metode pelatihan dirancang melalui tiga pendekatan utama, yakni pemaparan materi di kelas, praktik langsung penggunaan aplikasi, dan praktik lapangan berupa simulasi patroli untuk input data ancaman serta validasi GPS.
Data ancaman yang menjadi bagian dari latihan antara lain informasi mengenai perambahan, penebangan liar, perburuan satwa, serta berbagai bentuk ancaman lainnya terhadap kawasan.
Mendorong Patroli Berbasis Data
Pelatihan ini menargetkan sedikitnya 15 personel dari unsur BKSDA, mitra, dan masyarakat mampu mengoperasikan serta menganalisis data menggunakan aplikasi EarthRanger.
AWF juga menargetkan adanya peningkatan kemampuan peserta minimal 30 persen, yang diukur melalui hasil pre-test dan post-test pelatihan.
Selain peningkatan kapasitas individu, kegiatan ini diarahkan untuk mempersiapkan tim lapangan gabungan agar dapat melaksanakan patroli rutin berbasis EarthRanger di kawasan SM Rawa Singkil.
“Hari ini kami memulai sistem pemantauan berbasis aplikasi EarthRanger. Ini bukan soal membandingkan aplikasi, tapi bagaimana kami berpikir bisa lebih memudahkan sistem pelaporan yang terintegrasi secara realtime. Sehingga stakeholder kunci dapat lebih mudah menganalisis untuk kepentingan kebijakan konservasi ke depannya,” kata Yusmadi Yusuf, Direktur Eksekutif AWF.
Menurut Yusmadi, penguatan kapasitas masyarakat/ranger bersama BKSDA dan tim proyek menjadi bagian penting dalam membangun sistem pemantauan kawasan yang terintegrasi.
Penggunaan EarthRanger diharapkan dapat mendukung pencatatan informasi lapangan secara lebih sistematis sekaligus membantu proses validasi data spasial.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan Konservasi
Pelaksanaan pelatihan tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknis penggunaan aplikasi, tetapi juga memperkuat koordinasi antara BKSDA Aceh, masyarakat/ranger, dan AWF dalam pelaksanaan pemantauan kawasan berbasis data.
“Kami merasa senang sekali hari ini kami memiliki mitra baru yang akan membantu memudahkan kerja-kerja kami dalam memonitoring Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Kami berharap sistem ini akan dapat membantu mengidentifikasi dan menganalisis secara lebih cepat dan tepat, sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Aceh, Darwin, S.Hut., M.P.
Pelatihan di Subulussalam menjadi salah satu langkah awal dalam pelaksanaan proyek penguatan sistem pemantauan hutan berbasis EarthRanger di Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Melalui peningkatan kapasitas personel, keterlibatan masyarakat/ranger, serta koordinasi dengan BKSDA Aceh, AWF berharap sistem pemantauan kawasan dapat terus dikembangkan untuk mendukung upaya konservasi dan keberlanjutan pengelolaan SM Rawa Singkil.
Tentang Aceh Wetland Forum (AWF)
Aceh Wetland Forum merupakan organisasi yang bergerak dalam isu lahan basah dan konservasi hutan mangrove dan hutan gambut di Aceh. AWF dideklarasikan pada 2 Februari 2010 bertepatan dengan Hari Wetlands Sedunia. ***














