default

Rawa Tripa di Ujung Tanduk: Rumah Terakhir Orangutan Sumatera yang Kian Hilang

Hilang 20 Hektar Setiap Bulan

Rawa Tripa, bentang rawa gambut legendaris di pantai barat Aceh, kini berada di ambang kehancuran. Padahal, kawasan seluas 61.803 hektar ini bukan sekadar hutan—ia adalah paru-paru bumi, penjaga air, dan rumah terakhir bagi orangutan sumatera, salah satu primata paling terancam punah di dunia.

Terletak di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya, Rawa Tripa telah lama diakui sebagai bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), kawasan strategis nasional yang wajib dilindungi oleh berbagai regulasi penting: Keppres No. 33/1998, PP No. 26/2008, SK Menteri LHK No. 129/2017, serta Qanun Aceh No. 19/2013. Namun, di balik payung hukum yang tebal, hutan gambut ini terus terkoyak.

Hilang 20 Hektar Setiap Bulan

Analisis citra satelit tahun 2024 menunjukkan tutupan hutan Rawa Tripa kini hanya tersisa 6.428 hektar, menyusut 446 hektar dibanding dua tahun sebelumnya. Artinya, sekitar 20 hektar hutan hilang setiap bulan — laju yang mematikan bagi ekosistem gambut dan seluruh kehidupan di dalamnya.

“Dalam tiga dekade terakhir, hutan ini terus menyusut. Padahal, Rawa Tripa berperan penting menjaga keseimbangan hidrologi, mengendalikan banjir, hingga menjadi benteng alami terhadap bencana tsunami,” ujar Rahmad Syukur, Direktur Yayasan Apel Green Aceh.

Di bawah lapisan tanahnya, terdapat tiga kubah gambut dengan kedalaman lebih dari lima meter — menyimpan jutaan ton karbon yang, bila rusak atau terbakar, bisa lepas ke udara dan memperparah krisis iklim.

Orangutan yang Kehilangan Rumah

Rawa Tripa dulunya menjadi rumah bagi ratusan orangutan sumatera, bersama harimau sumatera dan beruang madu. Namun kini, habitat mereka tercerai-berai di antara perkebunan sawit dan lahan terbuka.

“Rawa Tripa sudah sangat tidak aman bagi orangutan. Relokasi ke Cagar Alam Jantho adalah pilihan terakhir, karena di sana bukan ekosistem gambut. Ini sulit bagi mereka beradaptasi,” kata Panut Hadisiswoyo, Direktur Green Justice Indonesia (GJI).

Menurut BKSDA Aceh, relokasi dilakukan bertahap dan difokuskan pada induk dan anak orangutan atau individu yang terisolir dan berkonflik dengan manusia. Meski langkah ini menyelamatkan sebagian, namun tidak akan berarti tanpa penyelamatan habitatnya.

Rawa Tripa Harus Diselamatkan

Kerusakan Rawa Tripa bukan sekadar hilangnya pepohonan, tetapi juga hilangnya masa depan satwa liar, keseimbangan air, dan ketahanan masyarakat pesisir terhadap bencana. Jika dibiarkan, ekosistem rawa gambut di kawasan ini akan hilang selamanya — dan bersama itu, lenyap pula harapan orangutan sumatera untuk hidup liar di habitat aslinya.

“Konservasi bukan hanya soal menyelamatkan satwa. Ini soal menjaga rumah mereka tetap hidup,” tegas Panut. “Hutan yang rusak harus direstorasi, dan praktik sawit di kawasan lindung harus dihentikan.”

Saatnya Bertindak

Rawa Tripa adalah simbol perjuangan kita melawan kehancuran lingkungan. Penyelamatan kawasan ini membutuhkan komitmen nyata pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Restorasi gambut, moratorium izin baru, dan penegakan hukum terhadap perusak hutan harus dilakukan sekarang—sebelum semuanya terlambat.

Karena menyelamatkan Rawa Tripa berarti menyelamatkan iklim, kehidupan, dan masa depan kita bersama.

Petisi

Dukung Petisi Penyelamatan Hutan Hujan

Lihat dan tandatangani seluruh daftar petisi aktif secara langsung di situs resmi.

Lihat Semua Petisi

Dukung Kami

Ayo Bergabung

Galeri AWF